INDONESIA — Di tengah gemuruh transformasi digital yang kian masif, tantangan terbesar bagi orang tua modern bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan untuk “hadir secara utuh” di hadapan anak-anak mereka. Menanggapi urgensi tersebut, PAUD Inklusi ABA III Bojonegoro menggelar simposium edukatif bertajuk “Digital Parenting: Membangun Kedekatan Orang Tua di Era Digital” pada Kamis (02/04/2026).
Bertempat di Omah Cabe Bojonegoro, acara ini mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan, praktisi literasi digital, dan orang tua dalam sebuah dialog reflektif yang mendalam.
Paradoks Konektivitas: Tantangan Konsentrasi Orang Tua
Fenomena “orang tua hadir fisik, namun absen secara mental” akibat ketergantungan pada gawai menjadi sorotan utama. Ibu Gifniyu’ah, S.Pd., selaku Pengelola PAUD Inklusi ABA III Bojonegoro, menegaskan bahwa maraknya penggunaan ponsel yang tidak terkontrol seringkali mengikis konsentrasi orang tua terhadap kebutuhan emosional anak.
“Kami melihat adanya urgensi di mana kehadiran orang tua harus kembali dimaknai secara kualitatif. Anak-anak membutuhkan tatapan mata dan perhatian penuh, bukan sisa waktu di sela-sela notifikasi layar,” ujar Ibu Gifniyu’ah dalam sambutannya.
Kolaborasi Strategis dengan Komdigi RI
Acara ini menjadi kian prestisius dengan kehadiran Kak Shela, Pandu Literasi Digital dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Sektor Pendidikan. Kehadirannya sekaligus bertujuan untuk mensosialisasikan program PP Tunas Komdigi RI, sebuah inisiatif nasional untuk melindungi dan membekali anak-anak Indonesia di ruang siber melalui peran aktif orang tua.
Kak Shela memaparkan bahwa literasi digital bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan bagaimana orang tua mampu menjadi filter dan pendamping utama bagi pertumbuhan karakter anak di era informasi.
Metode Experiential Learning: Belajar melalui Refleksi
Berbeda dengan seminar konvensional, kegiatan ini dikonsep dengan metode experiential learning. Para peserta tidak hanya duduk mendengar, tetapi dilibatkan dalam permainan berbasis pengalaman yang aktif, partisipatif, dan reflektif.
Metode ini dirancang untuk memicu kesadaran mandiri bagi orang tua. Melalui simulasi permainan tersebut, para peserta diajak merasakan sudut pandang anak ketika diabaikan demi sebuah ponsel, yang kemudian bermuara pada komitmen untuk membangun kedekatan yang lebih autentik.
Sukses Menuju Generasi Inklusif
Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme ini ditutup dengan sesi refleksi bersama. Kesuksesan acara ini semakin mengukuhkan posisi PAUD Inklusi ABA III Bojonegoro sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada kurikulum di dalam kelas, tetapi juga pada penguatan ekosistem keluarga.
Dengan sinergi antara guru, orang tua, dan pemerintah, diharapkan visi untuk menciptakan generasi yang cerdas digital namun tetap memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan keluarga dapat terwujud nyata di Bumi Angling Dharma.

